AYUNAN ANGKER (THE SCARY SWING)

Posted on

TITLE: AYUNAN ANGKER
PLACE: UNKNOWN
DATE: 21 AUGUST 2012
GENRE: HORROR
THE SCARY SWING
(AYUNAN ANGKER)
“Ga tau ga tau ga tau dan ga tau”, statemen itu yang selalu keluar di benakku disaat aku harus mengerjakan silabus dan rpp yang menumpuk di depanku. Banyak orang berkata bahwa pekerjaanku ini sangatlah mulia ada pula temanku yang berkata bahwa gaji seorang guru itu dunia dan akhirat jadi disaat aku merasa bahwa gajiku kecil aku akan membayangkan gaji besarku di akhirat nanti, yah lumayan sedikit terobati, heheheh. Hari itu adalah hari terakhir ujian akhir semester, akupun telah bersiap membayangkan liburan panjang yang sangat kunanti.” Tok tok tok”, “neng friska, neng lagi apa?”. Sedikit terkejut akupun menoleh kekanan. “Eh ibu kepala ada yang bisa dibantu bu?”. “Engga ini ibu Cuman mau ngasih tahu bahwa jangan lupa yah besok kita harus mempersiapkan acara buat perpisahan nanti, kayanya besok kita persiapan untuk perpisahan kan hari jumat acaranya sudah mulai”.
Seperti biasa setelah kerja aku langsung pulang ke rumah. Kemudian merebahkan diri di kasurku yang super empuk dimana tidak ada satupun di dunia ini yang dapat menyamai kasur kapukku yang telah kumodifikasi. Tanpa terasa pagi pun tiba seperti biasa aku harus mengerjakan perkerjaan rumahku. Hal yang paling kusukai adalah mencuci piring mungkin karena pada dasarnya aku sangat menyukai air. Setelah semuanya beres akupun bergegas mandi dan mempersiapkan diri untuk meeting yang diadakan di sekolah. Sesampainya di sekolah kamipun bersama guru-guru yang lain bahu membahu mempersiapkan tempat pertemuan.” Hei fris kelihatan seger banget hari ini”, seru temanku. “Ah biasa ajah kali kaya hari biasanya”, jawabku. “Ah beneran beda lho”, balas temanku. “Emang beda gimana sih”?, tanyaku. “Kamu kelihatan cantik dan berseri”, jawabnya. Sontak seluruh ruangan meeting yang sedang serius-seriusnya mempersiapkan ruangan meeting tertawa dan ada pula sindiran terdengar. “Wuiit tuiw… ehem ehem… yuuuu…. Jadian niyeee…. Eh baru tau yah…. Asik traktir-traktir dong”,teriakan dari seluruh penjuru ruangan terdengar. Dengan wajah merona merah bagai kuncup mawar merah aku pun berteriak. “Ah si devan di dengerinn”, teriakku.
Tanpa terasa waktu menunjukan pukul 9 malam. “Dan kayanya udah beres nih kerjaan” seruku. “iyah paling cuman tinggal bersih-bersih dan mempersiapkan tempat untuk sound system” jawab Dadan. Ternyata membersihkan ruangan sama lelahnya dengan mendekor namun memang tidak begitu menyita waktu. Setelah semua beres kami bertiga bersiap untuk pulang. “kunci tuh pintunya Dan jangan lupa” seru Tina. Suasana sekolah saat itu sangatlah gelap, apalagi beberapa ruangan kelas terlihat gelap. Mungkin karena lampunya mati atau mang Ujang lupa untuk menyalakannya. Kami berjalan pelan, temaram lampu dan bayangan mengiringi langkah kaki kami. Entah kenapa angin berhembus sangat kencang saat itu. “ngik ngik ngik” suara dari ayunan yang tergerakkan oleh angin. Memang di taman bermain sekolah kami ayunan dan semua alat permainan yang lain sangatlah lengkap, maklum sekolah kami bisa dibilang sekolah sedikit elit. Tiba-tiba Tina berteriak “ih..ih..ih apaan tuh putt..putihh?” memang saat itu Tina sedikit tertinggal di belakang karena dia harus membetulkan tali sepatunya yang terlepas. “mana Tin” jawab Dadan. “jangan bercanda Tin, udah malem nih” seruku. “Itu di tengah taman bermain, liat…liat disebelah ayunan” Tina sedikit berteriak, sambil menunjuk kearah kiri kami.
Angin yang berhembus dan suasana yang temaram aku rasakan, cuacapun sedikit mendung kupikir hujan mungkin akan tiba malam ini. Kami terkejut oleh teriakan Tina, Dadan pun sedikit maju ke depan kami seakan melindungi kami. “eh iyah apaan itu yah” kata Dadan. Jarak kami dari taman bermain mungkin sekitar 50 meter, pastilah kami bisa melihatnya. “Dan udah pulang aja yuk biarinlah” kataku. “Jangan takut Ren! Lebih baik kita pastiin, takutnya itu maling, ingetkan 2 minggu kemarin ruang lab computer dijebol” kata Dadan. “betul..betul, mending kita samperin tuh takutnya maling” Tina berseru. “ya udah kalian samperin aku ke belakang panggil mang Ujang yah” kataku. Kamipun berpisah. Segera saja aku berlari secepatnya menuju rumah mang Ujang.
Sesampainya aku di rumah mang ujang aku langsung mengetuk pintu rumahnya. Suasana rumah itu terlihat sepi mungkin semua yang ada telah tertidur. Aku bingung bercampur takut keringat dingin mulai mengucur. “mang ujang..mang ujang…tok..tok…toookkkkk” kukeraskan ketukan dan panggilanku. Masih belum terdengar suara maupun orang yang akan membuka pintuku. Di keheningan malam itu tiba-tiba aku mendengar suara “ngik…ngik..ngikk” layaknya sebuah besi tua yang telah berkarat kemudian tergoyangkan hasilnya akan terdengar suara yang seram. Apalagi saat itu malam. Keringat yang mulai semakin deras disertai jantung yang mulai berdegup semakin kencang. Suara itu suara itu terdengar semakin keras dan keras di belakangku, seakan-akan suara itu mulai mendekatiku dari belakang. Ya 4jj lindungi hamba, aku hanya bisa terdiam dan berdoa sebisaku. Suara itu semakin terasa dekat sekali di belakang punggungku, semakin keras dan semakin keras. Aku ga berani membalikan badanku apalagi mencoba sekedar melirik kebelakang. Disaat suara itu semakin keras dan berada tepat dibelakangku, tiba-tiba suara itu menghilang. Aku sempat memejamkan mataku disaat suara itu semakin dekat. Setelah beberapa menit berlalu, suara itu tidak terdengar lagi. Perasaanku mulai lega. Kubalikan badanku dan astaghfirulah,, astaga.. ya 4jj. Setelah kubalikkan badanku sesosok wanita dengan pakaian putih kumal yang compang-camping dan rambut yang terurai tidak beraturan sedang terduduk di sebuah ayunan tua yang terlihat sangat berkarat. Aku..aku ga bisa berkata-kata, teriakpun sangat sulit kulakukan. Badanku lemas, keringat semakin deras mengucur, bibirku terbata-bata seperti hendak mengeluarkan kata-kata.
Di tengah situasi yang mencekam itu, sosok wanita itu yang tadinya menunduk mulai perlahan-lahan dengan gerakan yang tidak wajar seperti yang terpatah-patah menaikkan kepalanya. Dia mulai menggumam.. yah menggumammm yang tidak kumengerti layaknya seseorang yang marah. “KKamuuu kkamuuu sudah menggangguuuu tidurkuuuu, hihihihihi” terdengar sosok itu berbicara layaknya seorang nenek-nenek, matanya bolong, wajahnyapun terlihat sangat menyeramkan penuh sayatan-sayatan yang mengeluarkan darah yang tipis, wajahnya yang pucat putih itu semakin menambah jelasnya mimic wajah nenek itu. Aku ga bisa berkata-kata, kakiku sulit untuk kugerakkan, aku ingin lari, aku ingin menerobos rumah mang ujang. Angin berhembus kencang sekali dan akupun tetap tertegun dan ketakutan. Kemudian ayunan itu bergoyang dengan sangat kencangnya, sambil sang nenek tertawa dengan kerasnya,”hihih hihihihhihih”. Aku semakin tak kuasa, kakiku lemas, kepalaku pening, aku.. aku akhirnya akupun terjatuh dan tak sadarkan diri.
Aku membuka mataku dengan berat, terasa dinginnya malam menusuk sampai tulangku. Aku terbangun dan kubuka mataku, terlihat bulan semakin cerah dan jelas. Ya 4jj aku pasti pingsan, ga mau aku mengingat peristiwa yang baru saja ku alami. Ku ketuk pintu rumah mang ujang sekeras-kerasnya. Aku pun berteriak, “mang..mang..mang ujang tolonggg” sekuat tenaga ku ketuk rumah mang ujang namun tidak tampak sedikitpun tanda-tanda kehidupan. Kemudian sekuat tenaga aku berlari kembali ke lapangan, namun…namun… tidak ada seorang pun di lapangan, sepertinya cuman..cuman aku yang berada di sekolahhh. Aku berjalan perlahan mendekati taman bermain yang berada di sebelah kiri sekolah. “hah, ada apa ini, Tina, Dadan..Tin” teriakku. Namun tidak ada satupun suara ataupun jawaban. Sekarang aku hanya bisa tertegun lemas, aku mulai menangis, setengah lemas aku mendudukan diriku di kursi panjang tepat di gerbang masuk taman bermain, tepat dibawah sinar rembulan yang terang malam itu. Tiba-tiba, “hihihihi, hihihih,” terdengar suara sayup-sayup perempuan. Jantungku berdebar kencang, mulutku menutup rapat, baru saja aku meneteskan airmataku, ya 4jj apa lagi cobaan yang harus kuterima. Tiba-tiba terlihat sebuah ayunan yang berada ditengah taman bermain bergerak-gerak dengan cepatnya, semakin kujelaskan pandanganku, kulihat ada sesosok putih sedang duduk di ayunan itu, semakin kencang ayunan itu bergerak semakin keras pula suara tertawa sosok itu. Aku hanya bisa terdiam kakiku seakan tidak mau untuk di gerakkan. “hihihi, hihih, kamu jangan sembarangan masuk keruangan tanpa ijin” sosok itu berkata. Tak lama setelah itu akupun terjatuh di kursi itu dan tak sadarkan diri. Sayup-sayup kudengar suara yang membangunkanku. “neng Rena, neng rena bangun, ngapain tidur disini” kata mang ujang. Dengan berat kubuka mataku dan memicingkan mata untuk melihat siapa gerangan orang yang membangunkanku, oh ternyata mang ujang penjaga sekolah. “neng ini minum dulu air putihnya” mang ujang berkata. Aku pun terbangun dan duduk, kuterima tawaran mang ujang. Setelah itu, aku mulai melihat ruangan sekitarku. Hah, ternyata aku berada di gudang di belakang sekolah, dan pintu gudang itu tepat tertuju ke taman bermain dan kulihat dengan jelas ayunan itu. Akupun dibawa dengan di bopong oleh mang ujang dan istrinya ke rumahnya. Tak berapa lama akupun menceritakan semuanya. Mang ujang pun meminta maaf, bahwa setelah persiapan perpisahan kemarin mang ujang pergi bersama keluarganya ke rumah kerabatnya yang sakit. Mang ujang sempat melihat aku pergi ke gudang belakang, namun setelah itu mang ujang tidak tahu lagi. Akupun Tanya apakah mang ujang melihat rena dan dadan. Mang ujang berkata bahwa mereka berdua cuman sampe sore, mang ujang ingat bahwa mereka menitip pesan kalo lihat rena bilangin kami pulang duluan. Jadi..jadi siapa yang bersamaku sampai malammmmm.

Guru

Posted on Updated on

                                                                                                                                         Cimahi, 16 June 2011

THE REAL AGENT OF CHANGE

                Dalam perkembangan saat ini, profesi seorang guru semakin diminati di kalangan masyarakat. Beragam faktor menyertainya, sebagai contoh, ada pendapat yang mengatakan bahwa dengan menjadi seorang guru dia akan mendapat banyak liburan kerja sebagaimana siswa yang diajarnya, adapula yang beranggapan bahwa dengan menjadi guru dia dapat berbagi ilmu yang bermanfaat baik itu di dunia maupun diakhirat. Banyaklah faktor-faktor yang menjadi dasar bagi seseorang untuk memilih profesi menjadi seorang guru. Terlepas dari semua faktor tersebut, yang menjadi sebuah permasalahan utama adalah disaat seseorang yang dipaksakan atau terpaksa menjadi seorang guru akibat dorongan baik dari orang tua maupun pihak-pihak luar dan bukanlah berasal dari kesadaran dan lubuk hati  orang tersebut, akibatnya adalah orang tersebut akan kurang mempunyai sense (rasa) untuk menjadi seorang Guru yang sejati.

                Sejatinya kita telah mengetahui  bahwa dengan menjadi seorang guru kita telah memilih jalan profesi seorang pahlawan tanpa tanda jasa (The Path Of The Forgotten Hero ), konsekuensi yang harus kita jalani pula beragam, dari mulai harus membawa pekerjaan kerumah, mengerti psikologis murid, pendekatan terhadap orang tua murid, hingga terkadang kita harus mendekati murid yang bermasalah sampai harus mengetahui latar belakang keluarga dan rumahnya bahkan lingkungannya.

                Pada akhirnya kita wajib untuk menyadari bahwa profesi seorang guru bukanlah sebuah profesi untuk mengejar uang sebanyak-banyaknya ataupun untuk mengejar sebuah status, melainkan sebuah profesi dengan beban tanggung jawab yang besar untuk dapat memberikan sebuah kontribusi bagi kemajuan sebuah bangsa dan berperan menjadi agen perubahan yang sesungguhnya (The Real Agent Of Change).  

Misteri Cinta

Posted on

MISTERI CINTA

Sungguh ajaib disaat mereka membicarakan hal itu, karena menurutku hal tersebut bisa dibilang seperti mimpi ketemu bulan di siang bolong, tahukah kawan apa yang saya maksud! Ya gambar monyet alias gope, untuk anda yang dapat menebaknya, “Cinta” ya itulah yang saya maksud. “Beginilah cinta penderitaannya tiada henti” Seperti kutipan Pat kai, dewa perang yang dikutuk menyerupai babi di dalam kisah agama Budha.

Seringkali kucoba untuk menemukan apa yang di sebut cinta namun sepertinya nasib belum menaungiku, entahlah kawan akupun tak mengerti. Cinta yang kutemukan tidaklah seperti yang mereka ceritakan, indah, dunia hanya milik kita berdua yang lain pada ngekost, batupun bisa disangka coklat bahasa kerennya Love is Blind, waduh bingung ah, malahan yang terjadi terhadapku adalah penolakan, penghinaan, pokoknya segala bentuk kekerasan rohani, yang membuat hatiku teriris bagaikan keju….He3x

Pernah suatu saat aku merasa mencintai seorang perempuan yang kurasa akan membuat hatiku bahagia dan semriwing berbunga-bunga, alah hiperbolisnya diriku, dia adalah adik kelasku di SMA, mungkin karena volume bertemu kami sangat sering karena dia itu tetanggaku, jadi otomatis kita kadang pulang bareng, ditambah lagi di sekolahku kelas 1, 2, dan 3 semua sekolah pagi, jadinya dari temen jadi demen deh. Seringkali aku melamuninya disela-sela pelajaran terakhir di sekolah, kepengen buru-buru pulang dan bertemu dengan si Doski, sampai-sampai sangking khusunya aku melamuni dia, waktu itu pas pelajaran Fisika, kebetulan dengan otakku yang lumayan pas aku bisa masuk kelas IPA, Pak Kudy saat itu sedang mengajarkan soal teori relativitasnya Albert Einstein yang terkenal, tiba-tiba disaat khayalanku berada bersamanya di sebuah taman bunga, Jebreeet sebuah pesawat, eh bukan sebuah granat, eh salah juga, ternyata sebuah penghapus melayang di kepalaku, benjolah diriku, “wei tuyul lagi ngapain kamu, bukannya memperhatikan pelajaran bapak, malah melamun” ucap pak Kudy, “ngelamun jadian ama kuda kali pak” ucap si Barnas. “diem kamu Barnas ngelantur aja” hardik pak Kudy.

Dunia ini terasa indah bila kami berjalan berdua sekedar untuk pulang kerumah, layaknya berjalan di tepian sungai Seine di Paris yang bersih, jernih, segar aduh saking hausnya kaya pengen nguyup (minum) dan bergemerlapan memantulkan sinar sang surya, namun pada kenyataannya kami selalu menutup hidung karena sungai atau selokan di negaraku tak sebanding dengan di Paris, baunya, kotornya, pekat hitam warnanya, wah inikah nasib hidup di Negara berkembang dimana kesadaran akan kebersihan itu sangatlah langka, padahal agama kita menyerukan bahwa kebersihan itu sebagian dari iman, oh berarti orang-orang kita imannya masih perlu dipertanyakan? (maaf).

Senda gurau selalu terdengar dari mulut kami, dua orang monyet yang sedang dilanda kasmaran atau mungkin hanya satu orang saja yaitu aku, entahlah terkadang aku juga mempertanyakan apakah dia menyukaiku, pertanyaan itu selalu tersirat di kepalaku di saat kami pulang bersama, tapi kalau dia tidak menyukaiku ngapain dia cape-cape bareng jalan sama aku. Sampai suatu hari aku merasa persiapanku sudah matang untuk mengutarakan sejuta aspirasi cintaku kepadanya, senjatanya adalah setangkai mawar yang kuminta dari tetangga sebelahku bapak Anang, pelurunya adalah selembar puisi yang kuambil dari potongan syair-syair lagu dari artis atau band yang sedang In saat itu.

Hari itu tepatnya sabtu seusai pelajaran terakhir, aku melesat bagaikan kuda liar menuju pintu gerbang sekolahku dan kulihat Bapak Roy Satpam sekolahku sedang membuka gembok gerbang itu. “weh kamu Supri, ada apa gerangan kau sudah berada di gerbang, pengen cepet pulang ya?” dengan logat bataknya yang khas beliau bertanya, “ah enggak Pak emang aku pengen aja liat Bapak buka gembok” jawaban ga jelas kuberikan, mungkin saking berdebarnya hatiku di hari bersejarah itu. “wah macam mana pula jawabanmu, apa gerangan maksudmu?” timpalnya. “oh maaf Pak, maksud saya mungkin suatu saat saya bisa membantu Bapak untuk membuka gembok sekolah ini, itung-itung tambah pengalaman” tersenyumku menjawabnya. “wah otakmu sudah tak karuan Pri, sudah sana pulanglah, orang tuamu pasti menunggumu” Beliau membalas. Setelah gerbang itu terbuka aku langsung berdiri di samping pojok kanan gerbang dan mempersiapkan semua perlatan tempurku, ku berkata di dalam hati, “Pri ini adalah sebuah sejarah yang sama pentingnya dengan mendaratnya pasukan sekutu di pantai Normandia pada perang dunia kedua, di bom atomnya Hiroshima dan Nagasaki, meluapnya Lumpur Sidoarjo, di gusurnya lapak kakekmu di pasar oleh para tibum, dan untuk semua peristiwa bersejarah di dalam kehidupan umat manusia, (duh jadi hiperbolis sekali aku)”. Tak berapa lama bermunculanlah para generasi penerus dan perusak bangsa, he3x, dari mulai anak kelas 1 yang berbaur dengan anak kelas 2 dan 3, dengan senyum lebar, gigi sedikit terlihat, kucari dimana gerangan putri saljuku, pasti dia akan terlihat diantara gelombang para kurcaci-kurcaci, sesekali para siswa melihatku dengan tersenyum, apa mereka pikir aku orang-orangan sawah, memang karus kuakui dengan jaket hitamku dan membawa plastik tempat aku menyimpan bunga itu, di tambah lagi aku tidak bergeming sedikitpun, aku mungkin terlihat seperti orang-orangan sawah, tapi ku tak perduli, yang penting aku akan menorehkan sejarah hidupku.

Tiba-tiba tanpa kusadari ada seseorang yang menepuk bahuku dari belakang, “Dar”, terkejutnya aku, Astaghfirullah, kutengok dan Jegeer, jantungku terasa berdebar-debar, keringat dingin mengucur dari dahiku. Bidadariku, putri saljuku, gitar spanyolku telah berdiri di belakangku dengan senyum mautnya. “Assalamuallaikum Kak Supri, sedang ngapain sih berdiri sendirian di gerbang, lagi magang gantiin bapak Roy ya? He3X” Najwa bertanya sambil tersenyum. Aduh senyumnya itu membuatku terpontang-panting bahasa gaulnya mungkin “GaK KUKu KuKu Deh”, padahal biasanya aku biasa saja kalau dia tersenyum, apakah karena hari ini aku mempunyai sebuah motif (tujuan) kepadanya. “Waalaikumsalam Wr. Wb, ah kamu bisa aja wa, aku cuman iseng aja pengen ngeliat karakter orang-orang yang pada pulang sekolah, buat bahan analisisku untuk pelajaran sosiologi (kebetulan aku anak IPS, hidup social, he3x)” tersenyumku menjawabnya. “Hayu kita pulang Kak” katanya. Tak biasanya najwa mengajakku tuk pulang, biasanya juga harus selalu aku yang mengajaknya selama 3 bulan terakhir kami pulang bareng, sebuah penantian yang sangat lama, setuju pembaca? He2x. “let’s go wa” sok keinggris-inggisan kujawab.

Seperti biasa kami bercakap-cakap dan bergurau karena memang aku orangnya riang dan dia orangnya sedikit serius tapi kadang nyeleneh, “Kaka pa sih yang Kakak bawa di plastic?” tanyanya. “ah enggak Kok ini cuman titipan Ibuku” jawabku dengan bakunya (mungkin kelemahanku adalah pada momen-momen penting dalam hidupku aku suka salah tingkah.. “oh iya wa pada kesempatan ini Kakak ingin mengutarakan sesuatu kapadamu, di tempat yang sangat spesial itu juga kalau Najwa tidak keberatan?” tanyaku. “santai aja lagi Kak, jangan berat-berat ah yang ringan-ringan aja kali, becanda kok, emang mau kemana sih Kak?” Najwa. “kita ke warung Padang Bapak Husein yuk?” tanyaku. Sesampainya disana, kami duduk restoran padang yang bergaya pedesaan maksudnya, dinding rukan (rumah makan) tersebut memakai bamboo rotan, kursi panjang dari kayu dan di sepanjang dinding rukan yang memanjang seperti persegi panjang itu, banyak sekali foto-foto yang menurut perkiraanku kerabat keluarganya Bapak Husein, yang kata banyak orang, Bapak itu masih turunan Raden atau Datuk dari daerah asalnya, terlihat dari foto-foto yang mungkin diambil pada tahun 1940an sampai saat ini, baju-baju yang mereka kenakan itu berkesan saudagar pada masanya. Setelah itu kamipun memesan makanan Padang yang paling special, setelah kami makan, tibalah saatnya aku melancarkan seranganku. “Najwa ada yang Kakak ingin sampaikan kepadamu!” aku. “Apaan sih Kak kaya yang serius gitu”, timpalnya. “Begini wa, ada sepotong keju eh, puisi yang Kakak ingin utarakan” jawabku. “sok aja Kak kaya yang ke siapa saja”, katanya. Agresi pertama kulancarkan…

“Kau begitu sempurna di mataku kau begitu indah,
Kau membuat diriku akan selalu memujamu. (courtesy of Andra and the Backbone).
Menghitung hari detik demi detik masaku nanti apakan ada,
Jalan cerita kisah yang panjang, menghitung hari, (courtesy of Krisdayanti)
Kini kau datang dengan sejuta cinta yang kauberi
Rasuki diriku
Kau curi lagi, kau genggam lagi,
Kau tawan lagi hatiku yang telah terbiasa tanpa cinta
Kau jerat diriku (courtesy of J-Rock feat Prisla)
Mungkin kamu takan pernah percaya, bahwa sesungguhnya aku telah terjatuh
Kuakui aku telah larut
Larut kedalam Kamu, yang kucintai……(courtesy of Dewa 19)

Kemudian diantara pengunjung rukan Pak Husein, ada yang bersorak mendukungku, aku tak perduli, namun tetap aku tersenyum (kan senyum itu sadaqah dan pencair ketegangan), kulihat rona wajahnya berubah manjadii merah, rambutnya yang hitam tergurai makin menambah kelucuannya di mataku. Agresi keduapun kulancarkan. Kuambil setangkai mawar di plastik hitam, kemudian aku berlutut dan kuulurkan tanganku memberikan setangkai mawar itu, sambil kuberkata,
Jadikanlah Aku Pacarmu,
Kankubingkai selalu indahmu
Jadikanlah aku pacarmu
Iringilah kisahku…… (courtesy of Sheila on 7)

Tiba-tiba Najwa sambil mengambil bunga pemberianku dia berkata..
Apa kau menantangku, untuk menjadikanmu
Cinta cita hatiku (courtesy of Sheila on 7)
Slow Down Baby, take it easy just let it flow
NO, NO, No, No, tunggu dulu cinta jangan buru-buru
Karena kurasa terlalu cepat, kutakut semua palsu
NO, NO, No, No, tunggu dulu masih ada banyak waktu
Biarkan cinta mengalir (courtesy of She)

Tiba-tiba hatiku menjdi tak karuan, antara sedih, kesal, malu, dan bingung. Apakah ini sebuah penolakan ataukah Najwaku hanya bercanda, namun dari raut mukanya dia serius, bayangan kelam tentang cinta kembali melintas di otakku. “Aaa…a..a..apa maksudmu Naj?” tanyaku dengan terbata-bata. “Kakaku Supri yang Najwa hormati, terimakasih atas semua usaha dan pengorbanan yang Kakak telah berikan namun sesungguhnya Kakak berarti selama ini salah mengartikan persahabatan kita, jujur kak, Najwa menganggap Kakak itu sebagai Kakak Najwa sekaligus sahabat” terangnya. Tertegun sesaat, membisu beribu kata layaknya seekor elang jawa yang bertengger di tebing menanti makanan untuk menyambung hidupnya, ya itulah aku, atau mungkin orang-orangan sawah, entahlah, berkecamuk di otakku kekalahan pertempuran yang menyakitkan seperti saat Napoleon terkalahkan di perang Waterloo di Belgia. Setelah itu tanpa banyak bicara aku ucapkan terima kasih atas penjelasannya, “sudahlah aku pergi” (courtesy of Padi) dan aku langsung pergi berlari menjauh dan kubiarkan dia yang membayar masakan padang itu, he100x. Di jalan menuju rumahku, hatiku terpukul, sesekali kuusap airmata yang menetes di pipiku. Aku berkata di dalam hatiku, “cukup sudah aku mengejar cinta.

Hari berganti, tahun berganti, baju juga ikut ganti, he3x, tak terasa aku sudah menginjak bangku kuliah, Alhamdullilah aku punya kesempatan untuk melanjutkan studiku di sebuah perguruan negeri. Kenangan lamaku kepada si doski di SMA dulu berangsur-angsur mulai hilang, mungkin karena banyak sekali kesibukan yang ada di kampusku yang dapat membuatku melupakan dia. Di kampusku banyak sekali bunga-bunga cantik dan bermekaran terus menggodaku untuk menjadi tangkainya, alah puitis, ceritanya. Namun dengan keteguhan hatiku akan pedihnya cinta kuabaikan perasaan itu. Hingga aku menjadi seorang Sarjana Pendidikan aku tetap seorang Ijo Lumut (Ikatan Jomlo Lucu dan Imut) begitulah kawan-kawanku menyebutnya, tapi emang bener sih akukan lucu dan imut (Narcis banget ya : membanggakan diri).

Bumi

Posted on

BUMI

Aku berjalan mengikuti sang angin, namun beliau seakan tak mau untuk aku ikuti, semua yang terjadi belakangan ini semakin membuatku bingung, “oh alam apa yang telah kuperbuat kepadamu sehingga aku menjadi seperti ini”. Sang angin terus bergerak menjauhiku, akupun berteriak “wahai angin, dengarkan suara hatiku ini! Aku ingin kamu tahu bahwa aku adalah ciptaan-Nya yang penuh dengan kekhilafan, tunggu angin bicaralah kepadaku”. Sang angin kemudian berhenti sejenak dan menoleh kepadaku, beliau hanya menatapku dengan tatapannya yang kosong dan berlalu dari diriku.

Lelah untuk terus mencari jawaban, aku terhanyut oleh suara gemerisik dedaunan di sekitarku. Kemudian kurebahkan jiwaku dan kusandarkan jasadku pada sebuah pohon oak yang rindang. Pikiranku melayang entah kemana, selagi mataku menutup dan beristirahat. Tiba-tiba terdengar suara yang memanggilku, “wahai engkau yang bersandar, apa gerangan yang terjadi sehingga raut wajahmu terasa begitu pilu?”. Aku terkejut mendengar suara itu, kemudian kulihat di sekitarku, namun tidak ada sesosok ciptaan-Nya di sekitarku, oh baru kusadari ternyata suara itu berasal dari pohon oak tua yang tengah kusandari. “wahai pohon yang bijaksana, maafkan hamba yang terlalu sombong hingga tak menyadari bahwa hamba sedang membebanimu dengan kesedihan hamba ini, dan tak sepatah katapun hamba meminta ijin untuk merebahkan jasad ini”, Aku berkata. “tak mengapa anak muda, namun jawablah pertanyaaku ini?”, sang pohon membalas. “wahai sang bijaksana, hambamu ini merasa beberapa ribu tahun ini hamba merasakan semua menjauhi hamba, dan hamba merasa bahwa kesendirian hamba ini semakin membunuh hamba”, aku berkata. “bolehkah aku mengetahui mengapa mereka menjauhimu?” sang pohon bertanya. “sebenarnya akupun tidak mengetahuinya wahai sang bijak, namun firasatku mengatakan mereka menjauhiku karena, aku telah membuat mereka tersakiti”, timpalku. “perbuatanmu yang mana?” pohon bertanya. “pernah kuinjakkan kakiku ini pada rerumputan liar di alam, kupikir aku hanya ingin bermain, namun sang mentari menasehatiku agar aku menjauhi sang rumput, karena di siang itu mereka sedang menikmati surya dari sang mentari untuk melangsungkan jalan hidup mereka, akupun berlalu dan malampun tiba, kunyalakan api sekedar untuk menghangatkanku di malam yang dingin itu, namun sang bulan menghardikku agar aku tidak membuang-buang ranting-ranting yang telah mati, aku menjadi bingung wahai sang bijak, dapatkah kau membantuku mencari jawaban atas semua kesusahan ini?”. Ucapku. “ha..ha..ha.., ternyata masalahmu itu sangat tak berbatas, bolehkah kutahu dulu siapa namamu ?”. beliau bertanya. “namaku…nama…ku sang Bumi”, balasku. Sang pohon kemudian merunduk dan melayangkan banyak sekali dedaunan, sepertinya dia menangis. Akupun berteriak kepadanya, “apa salahku sang bijak…. Apa salahku? Tolong jawablah, salahkah diriku bila aku harus tercipta oleh-Nya sebagai sang Bumi?”. Kucoba berulang-ulang untuk bertanya kepadanya, kugoyangkan beliau, karena tak kunjung jua beliau menjawab pertanyaanku. Lelah untuk terus bertanya, kulangkahkan kakiku yang gontai dengan penuh beban di kepalaku manjauhi sang pohon yang mungkin tidak terlalu bijak untuk menjawab semua pertanyaanku.

Terlalu pedih untuk menjadi diriku, aku takan bisa seperti ini terus harus kutemukan jawaban atas segala beban yang kupikul ini. Mungkin dengan terus berjalan dan berlari, kuyakin pasti akan kutemui jawaban pasti atas segala yang membebaniku ini..oh sang Pencipta berikan hambamu ini jawaban terindah atas segala yang membebaniku.

Perjalanan Mimpi

Posted on

perjalanan-mimpi
September 2006,

Perjalanan Mimpi

Sebuah lingkaran labirin dari mimpiku yang membawaku kepada kenyataan

Hari yang melelahkan. Disini aku sendiri memandangi sebuah lukisan yang mungkin sudah berumur puluhan tahun. Aku bertanya didalam hatiku “kenapa tiba-tiba aku berada disini?.”. Kupandangi ruangan disekitarku, luar biasa sungguh megah, lukisan-lukisan yang terpajang di setiap dinding, ukiran-ukiran cantik disetiap barang yang ada dirumah ini, mulai dari pegangan tangga, meja, kursi…sampai aku sadari disini tidak ada pintu dan jendela. Jantungku berdebar-debar, “sedang apa aku disini, ini bukanlah rumahku?”. Kemudian aku memandang keatas tangga dimana aku sekarang sedang berdiri, disana terdapat sebuah pintu. “mungkin aku harus menuju pintu itu?”. Aku berjalan menyusuri tangga dengan ukiran cantik disetiap sela pegangannya dan menghampiri pintu itu, sesampainya didepan pintu, aku melihat bahwa terdapat sebuah lubang tepat ditengah pintu itu, kemudian aku mencoba untuk mengintip pintu itu, jantungku kembali berdebar keras disaat aku mulai mengintip dari lubang pintu itu. Dari lubang pintu itu aku hanya bisa melihat satu buah lemari dengan banyak buku-buku, kemudian sebuah meja yang dikelilingi tiga atau empat buah kursi, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas mungkin karena lubang kunci ini terlalu kecil untukku melihatnya dari luar, karena lubang kunci itu memang diperuntukkan untuk penglihatan bagi orang yang berada didalam kamar itu. Kurasa tidak ada orang didalam kamar itu, yang sebelumnya sempat aku takutkan. Kemudian kuberanikan diri untuk mengetuk pintu itu beberapa kali hingga kuyakin tidak ada orang didalam kamar itu. Kucoba untuk membuka knop pintu kamar itu, dan ternyata tanpa kuduga pintu itu tidak terkunci. Segera aku melihat kesekeliling kamar itu, sebuah kamar yang sederhana. Diruangan ini aku menemukan sebuah jendela, mungkin hanya inilah jendela yang terdapat didalam rumah ini, dan ditambah lagi dijendela tersebut terdapat sebuah teleskop. Kemudian aku harus memilih apa yang akan kulakukan diruangan ini. Apakah aku harus membaca buku-buku yang ada di lemari itu yang terkesan sangat membosankan, walau sepintas kulihat judul yang sangat menarik hatiku yaitu “kucoba bertahan hidup”. Ataukah aku harus melihat ke jendela, agar kutahu aku sedang berada dimana. Kemudian kudekati jendela tersebut, dan kucoba untuk melihat keluar jendela itu disanalah kusadari bahwa sepertinya aku berada diatap dunia dimana dapat kulihat pedesaan, hutan, jalan-jalan, orang-orang, yang seakan-akan terlihat seperti sekumpulan semut-semut, kemudian kulihat kebawah ternyata rumah ini dibangun tepat diatas puncak tebing yang terjal, wow aku terkagum-kagum sekaligus ketakutan karena aku masih belum bisa mengerti bagaimana aku bisa sampai disini…..
Akhirnya kumemilih untuk mendekati jendela dan kudekati teleskop yang berada di depan jendela, kucoba untuk melihat ke dalam teleskop itu dan ternyata aku melihat sorang pria yang sedang duduk sendirian di sebuah bangku taman kota, kucoba untuk menajamkan mataku dan melihat dengan seksama, apa yang sedang dilakukan oleh pria itu. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang untuk datang menemuinya. Dia melihat-lihat keadaan sekitarnya, mulai dari orang-orang yang melewatinya, pepohonan di taman itu, sampai akhirnya dia sepertinya tertidur dengan merebahkan dirinya dikursi taman itu ditambah dengan angin lembut yang sepertinya meninabobokannya. Kemudian tanpa keduga dua orang pria yang berpakaian jas dan sangat rapih mendekatinya, dan sepertinya mereka bertanya kepada pria yang sedang duduk tersebut, kemudian pria yang sedang duduk tersebut terbangun dan mereka sepertinya sedang berbincang-bincang, kemudian pria yang sedang duduk itu berdiri dan membentangkan tangannya seperti hendak memeluk. Namun sepertinya mereka bukan sedang berbicara dengan ramah layaknya seorang teman , namun mereeka sedang bertengkar tentang hal yang aku sendiri tidak mengetahuinya, namun sontak saja aku terkejut disaat salah satu dari kedua orang pria yang berpakaian rapih itu mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya, aku tidak bisa memastikan apa benda tersebut, namun tanpa kuduga benda yang diarahkan kepada pria yang tadinya sedang duduk di taman itu mengeluarkan percikan api, baru kusadari bahwa benda tersebut adalah sebuah pistol mungkin ada 3 kali pistol itu ditembakkan dan pria itu akhirnya tersungkur. Kemudian kedua pria yang berpakaian jas itu pergi meninggalkan pria tersebut. Aku terkejut melihat kejadian itu dan masih tidak memahami kenapa kedua orang itu tega menembak pria itu. Setelah beberapa lama pria yang tertembak itu mengundang banyak orang untuk mengerubunginya. Tak berapa lama kemudian datanglah polisi yang mengamankan tempat tersebut dan kemudian setelah mengamankan tempat kejadiann tersebut pria itu dibawa oleh ambulan. Aku menghela nafasku dan mencoba untuk merebahkan diriku di tempat kursi, kucoba untuk berpikir bahwa semua ini tidaklah mungkin, kucoba mencubit tanganku berharap semua ini hanyalah mimpi, namun “aw sakit sekali disaat aku mencubit lenganku”. Ternyata ini semua bukanlah mimpi. Aku takut, aku sedih, aku tidak tahu aku sedang berada dalam bagian skenario dari kehidupan yang mana? Dan tanpa kuduga dadaku sakit, sakit sekali bagaikan ada sesuatu yang menusuk-nusuk dadaku, ditambah lagi mataku tidak dapat fokus untuk melihat sekitarku, semua benda diruangan ini sepertinya menjadi dua, mulai dari jendela, teleskop, kursi, lemari, atap, semuanya seakan membuatku ingin muntah, kemudian aku terjatuh dari kursiku, aku kesakitan sambil kupegang dadaku. Kututup mataku sambil berdoa sebisa mungkin dan berharap ini semua hanyalah sebuah mimpi.
Sayup-sayup kudengar suara, “1, 2, 3 tekan,” dan kurasakan sebuah kekuatan yang menekan dadaku sedemikian kuatnya, “dokter sepertinya dia tidak dapat bertahan, nadinya dangat lemah, irama jantungnyapun tidak normal” “biar teruskan saja kita berusaha suster” dokter itu berkata, “1, 2, 3”. “dokter dia mengalami banyak pendarahan sepertinya kita tidak dapat menahannya lagi” . kemudian kudengar suara biiip, biiiiip. Biiiiiiip, dari sebuah alat pengukur jantung. Panjang sekali suara itu, hingga kudengar dokter itu berkata dengan suara yang lemah, “suster kita kehilangan dia! dia telah meninggal!”. “Malangnya nasibmu anak muda” dokter itu berkata. Seketika itu juga ruangan yang tadinya penuh dengan hiruk pikuk, terkesan layaknya disebuah pekuburan, sepi, sunyi, tenang. Sampai akhirnya kusadari, aku sedang berada di rumah sakit tepatnya di ruang instalasi gawat darurat, mereka sedang menyelamatkan nyawaku…….
Aku belum mati, aku belum mau mati, aku masih ingin hidup, aku berkata, aku berteriak didalam hatiku, Alloh jangan ambil nyawaku sekarang, aku masih ingin hidup, siapa nanti yang akan mengurus adik-adikku, ibuku yang sudah tua renta, oh malangnya nasibku, bayangan masa kecilku, remajaku, masa-masa indahku tergambar di dalam pikiranku.
“Permisi, permisi, apakah anda yang bernama Ramlan, permisi bung Ramlan” “ahhh, iya” saya membuka mata dan mencoba melihat orang yang sedang membangunkanku. “iya saya yang bernama Ramlan, siapakah kalian?” kataku. “maaf membangunkan anda, namun kami akan langsung saja, bahwa kami meminta anda untuk tidak sekali-kali lagi mendekati Nyonya Ani, karena andapun tahu bahwa Nyonya itu telah bersuami dan anda telah menghancurkan kehidupan rumah tangga dari seorang pejabat negara ini”. Aku tidak dapat menerima perkataan orang itu, akupun berdiri dan berkata “Bung, kalian membuat saya marah, saya tidak pernah ingin menghancurkan kehidupan keluarga siapapun terlebih lagi Bapak Kombes Senopati, kurentangkan tanganku sebuah bentuk perlawananku terhadap segala tuduhan yang mereka timpakan kepadaku, aku tidak dapat menerimanya, bila saja mereka mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh Ani mungkin merekapun akan melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan. “Hei bung lebih baik Bapak Senopati saja yang berhadapan dan berbicara denganku, daripada dengan kalian yang tidak tahu apa-apa, apakah mungkin karena Senopati itu orang penting di kepolisian hingga dia terlalu sibuk untuk mengurusi masalah kejahatan daripada untuk bertemu orang jelata sepertiku, katakan kepada beliau daripada dia sibuk menangkap penjahat tangkaplah dulu dirinya sendiri yang mengatasnamakan hokum, namun dia sendiri melanggar hukum”. “Hei bung jangan berkata sembarangan kamu” orang kedua menyela, kemudian orang itu mengeluarkan sebuah pistol dan menembakkannya kepadaku. Aku langsung jatuh tersungkur…. Mataku buram, gelap, aku tidak dapat melihat apapun juga, bau mesiupun kuhirup, terlebih kurasakan darah segar mengalir dari dadaku, sakit….sakit, panas sekali dadaku, panas…….
Mungkin seharusnya di ruangan itu aku memilih untuk membaca buku di lemari yang berjudul “kucoba bertahan hidup”.

Penulis

“GALUH”

Terbang

Posted on Updated on

TERBANG

Terlalu murung untuk kubisa berkata bahwa aku dapat terbang. Indahnya alam ini bila saja aku bisa untuk menuruti kata-kata sang elang. Tapi biarlah semua ini berlalu dan menjadi bias oleh semua keindahan alam yang hanya bisa aku lihat tanpa dapat kurasakan langsung.

Awan membuatku bingung, karena terkadang beliau menjadi gelap atau terang. Namun tetap saja aku memandang dengan terkagum-kagum dengan keindahan alam ini.